Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

KAWAL ANTIPLAGIASI, PERGURUAN TINGGI HARUS BENTUK DEWAN ETIK

“Kita tidak akan segan menegakkan praktik plagiasi di perguruan tinggi, bahkan gelar Guru Besar bisa dicabut bila terbukti curang.”

Peringatan itu kembali menegas ketika Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir memaparkan sambutan pada acara Seminar Nasional Plagiasi dalam Ranah Etika dan Hukum, Kamis (16/4), di Jakarta. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi praktik kecurangan akademik, persentase artikel palsu dan mencatut penelitian milik orang lain masih terus marak ditemukan. Kasus plagiat, lanjut Nasir, harus dicegah dengan lebih ketat, di antaranya yang diusulkannya adalah pembentukan majelis atau dewan etik di masing-masing perguruan tinggi.

Hadir sebagai pembicara kunci dalam seminar tersebut Jimly Asshidiqie, Adi Sulistyono, dan Widyo Pramono. Topik yang mengemuka berkaitan erat dengan ranah kode etik dan hukum atas aduan kasus-kasus plagiasi. Pasalnya, peraturan terkait plagiarisme sesungguhnya sudah tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 17 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Penang­gu­langan Plagiat di Perguruan Tinggi.

“Namun akademisi banyak yang tidak sadar atau pura-pura tidak sadar hukum, praktik plagiasi terus terjadi,” ungkap Jimly Asshidiqie.

Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan Supriadi Rustad mengatakan, potensi terjadinya kasus plagiat muncul saat pengajuan angka kredit untuk kenaikan pangkat dan menjadi guru besar. Praktik semacam itu sangat mudah dideteksi melalui sistem dalam jaringan. Pemeriksaan berbasis laman dan teknologi informasi mestinya bisa menjadi momok bagi akademisi untuk berpikir ribuan kali ketika hendak memplagiasi. Itulah sebabnya, jika secara sistem dan teknis sudah ditanggulangi lewat penilaian berbasis online, namun masih muncul plagiasi, maka ranah hukum yang harus diperkuat.

“Sebab praktik plagiat sebelumnya kerap terjadi berulang. Sistem online ini juga menegakkan kebenar­an dan keadilan,” ujarnya. (nrs)

Kementerian Riset Teknologi, dan Pendidikan Tinggi juga mengawal kasus plagiasi ini dengan ketat melalui Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan. Dalam kajiannya nanti akan diperhatikan tolok ukur hasil karya publikasi penelitian agar berkualitas, berdaya saing, dan bersih dari plagiasi. (nrs)

sumber: http://dikti.go.id

 

DIKLAT TEKNIS PENGGUNAAN APLIKASI PERHITUNGAN

ANGKA KREDIT SESUAI PERMENPANRB NO. 46/2013

SERTA APLIKASI PENILAIAN KUALITAS PROSES

PEMBELAJARAN PERGURUAN TINGGI

Selengkapnya...
 

FWFE 2015 IMPAS-B FKIP Unlam

Fun Walk For Earth (FWFE) 2015 IMPAS-B FKIP Unlam merupakan event dalam rangka memperingati hari Bumi Se-Dunia yang diprakarsai oleh UKMF IMPAS-B (Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam, Seni & Budaya) FKIP Unlam.

Selengkapnya...
 

PEMBERITAHUAN PENERBITAN JURNAL

LENTERA: JURNAL STUDI PEREMPUAN

 

Selengkapnya...
 

MELENGKAPI BIODATA PADA SISTEM SIAKAD FKIP UNLAM

Diberitahukan  dengan hormat kepada Seluruh Mahasiswa /i I FKIP UNLAM, untuk Melengkapi form biodata pada sistem siakad online dilaman http://fkipunlam.ac.id/unlamakadonline/

Biodata ini sebagai sumber data awal akademik bagi mahasiswa sendiri, dan kegunannya antara lain:

  1. Surat keterangan mahasiswa
  2. Yudisium
  3. Ijin penelitian
  4. Pangkalan data perguruan tinggi (PDPT)
  5. Beasiswa DAN LAIN-LAIN

Karena banyak manfaat dari biodata tersebut dihimbau untuk segera melengkapi biodatanya untuk kelancaran proses akademik. diharapkan pengisian biodata paling lambat akhir semester genap 2014/2015.

Demikian kami sampaikan, atas perhatianya kami ucapkan terimakasih.

Banjarmasin, 15 April 2015

Sub Bagian Akademik FKIP Unlam

 
«MulaiSebelumnya21222324252627282930BerikutnyaAkhir»

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL